Psikoterapi Ihsan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Terapi yang sering dipraktekkan dalam
psikologi lebih banyak bersumber dari ilmu psikologi barat yang dasarnya adalah
ilmu psikoanalisa, behavioris dan humanistic. Terapi ini belum tentu sesuai
dengan budaya di Timur, karena perbedaan budaya agama, adat istiadat dan
falsafah hidup.
Sehingga perlu kiranya mengembangkan
terapi yang bersumber dari kearifan timur dengan menggali kembali sumber-sumber
yang sudah ada. Misalnya yang berasal dari agama (Islam, Hindu, Budha, Tao
dll), ataupun yang bersumber dari budaya (India, Cina dll).
Terapi-terapi yang dibahas disini,
adalah sekilas lebih kepada terapi yang ada dan berkembang dalam dunia Islam.
Hanya satu budaya dan agama saja bisa diciptakan beberapa terapi (sesuai dengan
kebutuhan), apalagi jika mengeksplorasi budaya dan agama yang ada. Terapi yang
dibahas masih jauh dari sempurna, bahkan masih terasa lebih kearah filosofis.
Butuh waktu dan keuletan untuk menggali dan mengembangkan lebih lanjut kearah
yang lebih sempurna.
Terapi dalam Islam, misalnya terapi
Ihsan, dan terapi-terapi lain. Inti terapi ini adalah bagaimana seseorang dapat
memaknai suatu makna secara filosopis, dengan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Rasa ikhlas tidak lepas dari terapi-terapi yang dijelaskan disini.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud
ihsan?
2.
Bagaimana psikoterapi
melalui ihsan?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Psikoterapi Ihsan
Ihsan
(bahasa Arab:
احسان)
adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau
"terbaik." Dalam terminologi agama Islam,
Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia
melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang
tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Ihsan secara harfiyah berarti berbuat
baik. Pelakunya disebut muhsin. Sebagai jenjang penghayatan keagamaan ihsan
terkait dengan pendidikan budi pekerti luhur atau berakhlaq mulia. Dalam QS. An
Nisa’ :125 dijelaskan bahwa jika ihsan dirangkaikan dengan sifat pasrah kepada
tuhan, islam, orang yang berihsan merupakan orang yang paling baik
keagamaannya. Nabi juga menyebutkan bahwa yang paling utama dari kalangan kaum
beriman adalah yang paling baik akhlaqnya.[1] « أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
»
Berdasarkan hadist riwayat
Muslim dari Abu Hurairah ra.:Dari Abu H urairah ra., ia
berkata: Pada suatu hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin. Lalu
datang seseorang dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu
engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya,
kitab-Nya,
pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari
Kebangkitan akhir".
Orang itu bertanya lagi: "Wahai
Rasulullah, apakah Islam itu?".
Rasulullah SAW bersabda: "Islam, yaitu engkau beribadah kepada Allah
dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan salat fardhu,
memberikan zakat
wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan". Orang itu kembali bertanya: "Wahai
Rasulullah, apakah Ihsan itu?".
Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu engkau beribadah kepada Allah
seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka
ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu".
Orang itu bertanya lagi: "Wahai
Rasulullah, kapankah Hari Kiamat
itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang ditanya tidak
lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan
majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang yang semula
miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila orang-orang
yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka
itu termasuk di antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah".
Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman
ayat 34: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan
tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang
ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa
yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi
mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".
Kemudian orang itu berlalu. Lalu
Rasulullah SAW bersabda: "Panggillah orang itu kembali!". Para
sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun.
Maka Rasulullah SAW bersabda: "Itu tadi adalah Jibril, yang
datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka".[2]
Rasulullah
menjelaskan dalam hadits:
“الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ
تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك َ“
“Ihsan adalah
kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak
melihat-Nya sesungguhnya Allah Melihat kamu.” (HR.Bukhari).
Ketika seorang muslim merasa diawasi Allah dalam
beribadah, maka dia berusaha maksimal melalukannya sesuai dengan petunjuk
syari’at dan ikhlas karena-Nya[3],
inilah yang dimaksud dengan ihsan di dalam surat Al-Mulk ayat 2:
“Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4qu‹ptø:$#ur öNä.uqè=ö7u‹Ï9 ö/ä3•ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur Ⓝ͕yèø9$# â‘qàÿtóø9$# ÇËÈ
Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia
menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun,
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik
dari hadits ini adalah penjelasan tentang ihsan yaitu seorang manusia menyembah
Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia
melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah
derajat ihsan yang paling sempurna.
Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya
dia berada di derajat kedua yaitu: menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang
dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi
bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka
sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak
mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun
batin.[4]
Ihsan berarti kebaikan. al-raghib al ashfani menjelaskan bahwa islam
itu lebih tinggi dari keadilan. Keadilan adalah keseimbangan antara memberi dan
mengambil. Adapu ihsan adalah memberi lebih banyak dan memberi lebih sedikit,
artinya berbuat kebaikan dengan ukuran lebih dari yang telah dilakukan orang
lain kepada kita. Ihsan adalah satu sifat yang menjadikan pemiliknya
memperlakukan pihak lain dengan baik meskipun pihak lain itu memperlakukannya dengan
buruk. Karenanya ihsan adalah sebuah kebaikan yang lahir dari batin terdalam.
Akan tetapi, ihsan tampaknya lebih baik dicukupkan untuk kehidupan
antar individu saja. Untuk hidup bermasyarakat keadilan lebih diutamakan. Imam
ali bin abi thalib Ra berkata; adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya,
sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Jika
hal ini menjadi aturan kehidupan bermasyarakat, masyarakat tidak akan seimbang.
Itulah sebabnya mengapa nabi muhammad SAW menolak memberikan maaf kepada
seorang pencuri setelah diajukan ke pengadilan walaupun pemilik harta telah
memaafkan.
Imam ghazali menjelaskan bahwa
iman adalah kebenaran dengan hati (tashdiq), islam adalah ketundukan dan
kepatuhan (taslim), dan ihsan adalah kebaikan terdalam (ahsan atau tahsin).
Ketiga istilah ini adalah tiga hal yang berbeda namum terjali erat. Iman
merupakan sebentuk amal, ia adalah amal yang paling utama, sedangkan islam
adalah ketundukan, baik dengan hati, dengan ucapan, maupun dengan tindakan.
Tingkat lanjutannya adalah ihsan yaitu melakukan pembenaran dan ketundukan
dengan kesadaran lillahi ta’ala tanpa ada unsur lain yang mempengaruhinya.[5]
B.
Psikoterapi Ihsan
Ø 3
pilar utama agama adalah
1. Islam
mewakili sisi praktis agama, termasuk ibadah amaliyah dan kewajiban-kewajiban
lainnya. Pada pilar ini ulama’ menyebutnya syariat dan secara khusus ilmu yang
membahasnya dalah fiqih.
2. Iman,
berkaitan dengan kepercayaan yang terletak dalam hati dan pikiran. Kepercayaan
ini meliputi; keimanan pada Allah, malaikat2nya, rasul-rasulnya,
kitab-kitabnya, hari akhir , dan takdir. Pada pilar ini para ulama’ menyebutnya
sebagai tauhid.
3. Ihsan,
merupakan aspek ketiga dari pilar agama yang dikenal sebagai aspek rohani. Para
ulama’ menyebutnya sebagai pilar tasawuf. Aspek ini menyadarkan manusia ketika
ia hendak mempertautkan pilar paertama dan kedua, serta memperingatkan bahwa
Allah selalu hadir dan mengawasinya.
Secara
ringkas islam menggambarkan perilaku seorang muslim, iman berkaitan dengan
kepercayaan dan aqidahnya, dan ihsan mengacu pada keadaan hati yang menentukan
apakah keislaman dan keimanan seseorang itu akan membauakan hasil dikehidupan dunia dan akhiratnya atau tidak.
Dalam
ihsan terkandung semua sifat baik seorang mukmin, seperti;
1. Taqwa
|
9. Adab (akhlak terpuji)
|
2. Wara’
|
10. Taubat
(kembali kejalan yang benar)
|
3. Zuhud
|
11. Khilm
(lembut)
|
4. Khusyu’
|
12. Rahmah
(kasih saying)
|
5. Khudhu’ (Rendah hati)
|
13. Dermawan
|
6. Sabar
|
14. Tawadhu’
|
7. Siddiq
|
15. Haya
(sederhana)
|
8. Tawakkal
|
16. Saja’ (
berani)[6]
|
Semua
sifat itu merupakan sifat nabi muhammad SAW, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Aisyah Ra, bahwa akhlaqnya adalah alqur’an. Nabi menanamkan sifat-sifat
baik tersebut kepada para sahabat yang kemudian dijadikan teladan untuk ummat
manusia.
Maqom
ihsan merupakan maqom orang-orang yang benar (maqom Al Siddiqin)[7]. Manivestasi
perilaku mukmin yang dijiwai ihsan, iman, dan islam.[8]
![]() |
|||
|
|||
Menurut Raghib al-Asfahani ihsan lebih tinggi derajatnya dari sekedar
adil. Jika adil adalah memberi dan mengambil sesuai dengan porsi yang yang
dibutuhkan, maka Ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit.
Dalam salah satu hadisnya Rasulullah menjelaskan bahwa “Ihsan adalah
kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kami melihat-Nya. Namun apabila kamu
tidak merasakan melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).
Kata ibadah yang dijelaskan oleh Rasulullah di atas tidak terbatas pada
ibadah makhdah. Dalam Islam ibadah melingkupi segala perbuatan yang diniatkan
untuk kepatuhan kepada Allah Swt. Orang yang shalat dan yang bermain bola
sama-sama ibadah, apabila ditujukan dengan ikhlas sebagai upaya kepatuhan
terhadap Allah Swt.. Dengan pengertian ini maka orang yang telah mencapai
tingkatan ihsan akan selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindakannya,
baik yang tesembunyi maupun terang-terangan.
Bukan hanya dalam hubungan dengan Allah (hablunminallah), dalam tataran
interaksi dengan manusia (hablunminannas) ihsan juga sangat diperlukan.
Kebobrokan moral dan meningkatnya kriminalitas adalah pertanda utama hilangnya
ihsan. Bagaimana mungkin seorang yang merasakan kehadiran Allah dalam setiap
tindakannya akan mudah berbohong, membohongi, hingga korupsi.
Dalam beribadah orang yang mencapai tingkatan ihsan akan merasakan
kekhusyuan dan kepasrahan yang penuh kepada Allah Swt. Dalam berinteraksi
dengan orang lain, dia akan selalu mengedepankan etika dan kemaslahatan. Dalam
mengemban amanah dia akan menjalankanya dengan bijaksana. Bahkan dalam
berinteraksi dengan binatang pun dia tidak akan pernah menyakitinya.
Rasululllah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menuliskan ihsan dalam
segala hal. Maka apabila kalian berperang, berperanglah dengan ihsan. Apabila
kalian menyembelih binatang, sembelihlah dengan ihsan, yaitu dengan menajamkan
mata pisau agar sembelihan itu tidak tersiksa.” (HR Muslim).
Orang yang telah mencapai derajat ihsan ini disebut muhsin.
Seorang muhsin memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.”[9] (an-Nahl [16]: 128).
Seorang muhsin memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah Swt. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muhsinin.”[9] (an-Nahl [16]: 128).
Usaha untuk mencapai kedudukan ihsan adalah amalan yang mulia. Pada
intinya untuk mencapai kedudukan ihsan adalah dengan selalu beramal shaleh
(amar ma’ruf nahi munkar). Ihsan
mengidentifiksikan beberapa poin penting , diantaranya sebagai berikut:
1.
Memperbaiki ruh dengan
mengikuti secara amali semua yang ada dalam ajaran al qur’an dan sunnah nabi.
2.
Menjadikan dirinya
selalu berkomitmen terhadap perlakuan tersebut dalam setiap saat.
3.
Berbuat baik kepada
manusia dengan menyampaikan kebaikan kepada mereka demi mendapatkan balasan
dari Allah dan tidak mengharapkan balasan dari manusia. Tidak ada kebaikan
dalam menyalamatkan manusia yang menyamai mengajak mereka kedalam kebenaran dan
pada jalan yang lurus.
4.
Memperbaiki nilai jiwa
bagi dirinya. Maka dia berinteraksi pada manusia dengan berpedoman ihsan, yaitu
mengambil lebih sedikit dari haknya dan memberi lebih banyak dari yang
diwajibkan padanya.[10]
Ihsan adalah
syariat atau perkara – perkara yang berhubungan dengan akhlak, perkara-perkara
kerohanian. Imam Malik ra berkata “barang siapa befiqh (syariat lahir) tetapi
tidak bertasawuf (syariat batin) maka fasiklah ia, dan barang siapa bertasawuf
tetapi tidak berfiqh maka zindiklah ia (kafir tanpa sadar). Individu akan
memperoleh kesehatan mental ketika dalam hidupnya selalu menempuh jalan yang
baik serta berbuat baik. Orang yang berbuat baik berarti menempuh jalan yang
baik, yaitu jalan yang tidak menanggung resiko, sehingga hidupnya terhindar
dari permusuhan, pertikaian dan iri hati. Dalam kondisi seperti ini individu
akan memperoleh kesehatan mental.[11]
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Ihsan (bahasa Arab:
احسان)
adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau
"terbaik." Dalam terminologi agama Islam,
Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia
melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang
tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Ihsan secara
harfiyah berarti berbuat baik. Pelakunya disebut muhsin. Sebagai jenjang
penghayatan keagamaan ihsan terkait dengan pendidikan budi pekerti luhur atau
berakhlaq mulia. Dalam QS. An Nisa’ :125 dijelaskan bahwa jika ihsan
dirangkaikan dengan sifat pasrah kepada tuhan, islam, orang yang berihsan
merupakan orang yang paling baik keagamaannya. Nabi juga menyebutkan bahwa yang
paling utama dari kalangan kaum beriman adalah yang paling baik akhlaqnya. « أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
»
Imam ghazali menjelaskan bahwa iman
adalah kebenaran dengan hati (tashdiq), islam adalah ketundukan dan kepatuhan
(taslim), dan ihsan adalah kebaikan terdalam (ahsan atau tahsin). Ketiga
istilah ini adalah tiga hal yang berbeda namum terjali erat. Iman merupakan
sebentuk amal, ia adalah amal yang paling utama, sedangkan islam adalah
ketundukan, baik dengan hati, dengan ucapan, maupun dengan tindakan. Tingkat
lanjutannya adalah ihsan yaitu melakukan pembenaran dan ketundukan dengan
kesadaran lillahi ta’ala tanpa ada unsur lain yang mempengaruhinya.
3
pilar utama agama adalah
1.
Islam mewakili sisi
praktis agama, termasuk ibadah amaliyah dan kewajiban-kewajiban lainnya. Pada
pilar ini ulama’ menyebutnya syariat dan secara khusus ilmu yang membahasnya
dalah fiqih.
2.
Iman, berkaitan dengan
kepercayaan yang terletak dalam hati dan pikiran. Kepercayaan ini meliputi;
keimanan pada Allah, malaikat2nya, rasul-rasulnya, kitab-kitabnya, hari akhir ,
dan takdir. Pada pilar ini para ulama’ menyebutnya sebagai tauhid.
3.
Ihsan, merupakan aspek
ketiga dari pilar agama yang dikenal sebagai aspek rohani. Para ulama’
menyebutnya sebagai pilar tasawuf. Aspek ini menyadarkan manusia ketika ia
hendak mempertautkan pilar paertama dan kedua, serta memperingatkan bahwa Allah
selalu hadir dan mengawasinya.
Ihsan mengidentifiksikan beberapa poin penting , diantaranya sebagai
berikut:
1.
Memperbaiki ruh dengan
mengikuti secara amali semua yang ada dalam ajaran al qur’an dan sunnah nabi.
2.
Menjadikan dirinya
selalu berkomitmen terhadap perlakuan tersebut dalam setiap saat.
3.
Berbuat baik kepada
manusia dengan menyampaikan kebaikan kepada mereka demi mendapatkan balasan
dari Allah dan tidak mengharapkan balasan dari manusia. Tidak ada kebaikan
dalam menyalamatkan manusia yang menyamai mengajak mereka kedalam kebenaran dan
pada jalan yang lurus.
4.
Memperbaiki nilai jiwa
bagi dirinya. Maka dia berinteraksi pada manusia dengan berpedoman ihsan, yaitu
mengambil lebih sedikit dari haknya dan memberi lebih banyak dari yang
diwajibkan padanya.
Ihsan adalah
syariat atau perkara – perkara yang berhubungan dengan akhlak, perkara-perkara
kerohanian. Imam Malik ra berkata “barang siapa befiqh (syariat lahir) tetapi
tidak bertasawuf (syariat batin) maka fasiklah ia, dan barang siapa bertasawuf
tetapi tidak berfiqh maka zindiklah ia (kafir tanpa sadar). Individu akan
memperoleh kesehatan mental ketika dalam hidupnya selalu menempuh jalan yang
baik serta berbuat baik. Orang yang berbuat baik berarti menempuh jalan yang
baik, yaitu jalan yang tidak menanggung resiko, sehingga hidupnya terhindar
dari permusuhan, pertikaian dan iri hati. Dalam kondisi seperti ini individu
akan memperoleh kesehatan mental.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Chodjim. 2007, Syeh
siti jenar: makrifat dan makna kehidupan. jakarta: serambi ilmu
Ali Abdul Halim Mahmud. 2000, pendidikan
ruhani. Jakarta: Gema
Insani press
Muhammad sholikhin. 2008, filsafat dan
metafisika dalam islam. yogyakarta: Narasi
Syeh M. Hisyam Kabbani. 2007, tasawuf dan ihsan. Jakarta: PT serambi
ilmu semesta
Taofiq Yusmansyah. 2008, Aqidah
dan akhlaq. Bandung, Grafindo media pratama
[8] Achmad Chodjim, Syeh siti jenar: makrifat dan makna kehidupan.
(jakarta: serambi ilmu 2007). Hal 151
Tidak ada komentar:
Posting Komentar