KELUARGA
SEHAT DAN SEJAHTERA
Diusia Lanjut
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita pasti akan merasa senang sekali jika didalam
keluarga itu tidak ada amarah, tidak ada emosi, tidak ada kata-kata kotor atau
makian dari mulai orang tua kita kepada kita, kita kepada orang tua kita,
dengan isteri kita, juga dengan anak-anak kita. Sungguh indah keluarga kita.
Inilah yang sering kita idam-idamkan. Keluarga yang sakinah, keluarga yang
saling pengertian.
Jika senantiasa rukun, jika kita senantiasa berjamaah,
insyaallah keluarga kita akan menjadi keluarga yang saling pengertian, keluarga
yang sakinah. Begitu indahnya keluarga kita, kita setiap hari berdoa kepada
Allah agar keluarga kita menjadi keluarga sakinah.
Keluarga sakinah tidak bisa kita dapatkan hanya dengan
berdoa saja, tapi keluarga sakinah itu bisa kita dapatkan benar-benar dengan
aplikasi kita dengan kehidupan sehari-hari kita dengan keluarga. Janganlah kita
menomorsatukan nafsu kita, janganlah kita marah, jengkel kalau ada masalah
dengan isteri atau suami kita. Tidak saling mendahulukan amarah, tidak
mendahulukan kata-kata yang kotor, kita tidak mendahulukan keinginan kita yang
sebenarnya itulah nafsu kita, itulah kesenangan kita.
Malaikat Roqib akan senantiasa menilai kita dan
keluarga kita, dan akan disampaikan kepada Allah taala, dan Allah akan
memberikan sakinah kepada keluarga kita. Allah akan memberikan nantinya
pengertian kepada keluarga kita sehingga keluarga kita benar-benar menjadi
keluarga yang harmonis, keluarga yang penuh ridho dari Allah Ta’ala, amin.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah indikator keluarga sakinah itu?
2.
Bagaimanakah proses penuaan berlangsung?
3.
Bagaimanakah pendekatan holistik pada pendidikan
anak?
4. Bagaimanakah
komitmen agama dalam keluarga?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
INDIKATOR KELUARGA SAKINAH
Keluarga menurut makna sosiologi
adalah kesatuan masyarakat (sosial) berdasarkan hubungan perkawinan atau
pertalian darah.[1]
Pertalian keluarga atau keturunan diatur secara parental atau bilateral yaitu
garis keturunan yang berdasarkan garis keturunan orang tua. Garis keturunan ini
terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Matrilineal, pertalian keluarga menurut
garis ibu
2. Patrilineal, pertalian keluarga menurut garis
bapak
Dalam kehidupan sehari-hari yang dimaksud keluarga
adalah sebagai berikut:
a. Sanak saudara, kaum kerabat.
b. Orang seisi rumah, suami-istri,
anak.
c. Orang yang berada dalam satu
naungan organisasi tertentu atau sejenisnya.
d. Masyarakat terkecil berbentuk
keluarga.
Sakinah dalam bahasa Arab berarti
ketenangan dan ketentraman jiwa. Sedangkan kata sakinah menurut beberapa tokoh
adalah sebagai berikut:
a) Menurut Rasyid Ridla, sakinah
adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari
goncangan batin dan kekalutan.
b) Al-Isfahan (ahli fiqh dan tafsir)
mengartikan sakinah dengan tidak adanya rasa gentar dalam menghadapi sesuatu.
c) Al-Jurjani (ahli bahasa), sakinah
adalah adanya ketentraman dalam hati pada saat datangnya sesuatu yang tidak
diduga, dibarengi satu nur (cahaya) dalam hati yang memberi ketenangan dan
ketentraman pada yang menyaksikannya, dan merupakan keyakinan berdasarkan
penglihatan (‘ain al-yaqin).
d) Ada pula yang menyamakan sakinah
itu dengan kata “rahmah” dan “thuma’ninah”, yang artinya tenang, tidak
gundah dalam melaksanakan ibadah.
Istilah keluarga sakinah merupakan dua kata yang
saling melengkapi, yakni kata sakinah sebagai kata sifat yaitu untuk menyifati
atau menerangkan kata keluarga. Keluarga sakinah berpengertian keluarga yang
tenang, tentram, bahagia, dan sejahtera lahir batin.
Munculnya istilah keluarga sakinah ini sesuai dengan
firman Allah pada surat Ar-Rum ayat 21 yang menyatakan bahwa tujuan berumah
tangga adalah untuk mencari ketenangan dan ketentraman atas dasar mawaddah dan rahmah yaitu saling mencintai dan penuh rasa kasih sayang antara
suami dan istri.
QS.
Ar-Rum: 21
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur
Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbrã©3xÿtGtƒ ÇËÊÈ
“Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Dalam keluarga sakinah setiap anggotanya
merasakan suasana tentram, damai, bahagia, aman, dan sejahtera lahir batin.
Sejahtera lahir adalah bebas dari kemiskinan harta, dan takanan-tekanan
penyakit jasmani. Sedangkan sejahtera batin adalah bebas dari kemiskinan iman,
serta mampu mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan keluarga
dan masyarakat.
Keluarga sakinah menurut program nasional Pemerintah
Republik Indonesia melalui mentri agama 8 Januari 1999 sebagimana disebutkan
dalam UU No. 1 th. 1974 tentang perkawinan pasal 1 ”perkawinan adalah suatu
ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai
suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.[2]
Indikator keluarga sakinah sesuai dengan SK Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji
No. D/71/1999 Pasal 4 adalah sebagai berikut:
1. Keluarga Pra Sakinah, yaitu
keluarga-keluarga yang dibentuk melalui perkawinan yang sah, tidak dapat
memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan material secara minimal seperti keimanan,
shalat, zakat fitrah, puasa, sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
2. Keluaraga Sakinah I, yaitu
keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan
material secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya
seperti kebutuhan akan pendidikan, bimbingan keagamaan dalam keluarga, dan
belum mampu mengikuti instruksi sosial keagamaan dengan lingkungannya. Dengan
kriteria atau tolak ukur sebagai berikut:
a- Tidak ada penyimpangan terhadap
peraturan syari’at dan UU No. 1 tahun 1974
b- Memiliki surat nikah
c- Mempunyai perangkat sholat
d- Terpenuhi kebutuhan makanan pokok
e- Memiliki buku agama
f- Memiliki Al-Qur’an
g- Memiliki ijazah setingkat SD
h- Tersedianya tempat tinggal
sekalipun mengontrak
i-
Memiliki
dua stel pakaian yang pantas
3. Keluarga Sakinah II, yaitu
keluarga-keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dan juga
mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta bimbingan keagamaan
dalam keluarga, serta mampu mengadakan interaksi sosial keagamaan dengan
lingkungannya. Tapi belum mampu menghayati serta mengembangkan nilai-nilai
keimanan, ketakwaan, dan akhlaq mulia; infaq wakaf, amal jariyah, menabung dan
sebagainya. Dengan kriteria atau tolak ukur sebagai berikut:
a- Menurunnya angka perceraian dalam
keluarga
b- Meningkatnya penghasilan keluarga
melebihi kebutuhan pokok
c- Memiliki ijazah setingkay SLTP
d- Banyaknya keluarga yang memiliki
rumah sendiri meskipun sederhana
e- Banyaknya keluarga yang ikut
kegiatan sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaan
f- Dapat memenuhi empat sehat lima
sempurna
4. Keluarga Sakinah III, yaitu
keluarga-keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan,
dan sosial psikologis, serta pengembangan keluarganya, tapi belum mampu menjadi
suri tauladan bagi lingkungannya. Dengan kriteria atau tolak ukur sebagai
berikut:
a- Meningkatnya kegiatan dan gairah
keagamaan di masjid-masjid maupun dalam keluarga
b- Keluarga aktif menjadi pengurus
kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan
c- Meningkatnya kesehatan masyarakat
d- Keluarga utuh tidak cerai
e- Memiliki ijazah setingkat SLTA
f- Meningkatnya pengeluaran untuk
shadaqah
g- Meningkatnya pengeluaran untuk
qurban
5. Keluarga Sakinah III Plus, yaitu keluarga
yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan, dan akhlaq
mulia secara sempurna, kebutuhan sosial psikologis dan pengembangannya serta
dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya. Dengan kriteria atau tolak ukur
sebagai berikut:
a- Banyaknya anggota keluarga yang
telah melaksanakan haji
b- Meningkatnya jumlah tokoh agama
dan tokoh organisasi dalam keluarga
c- Meningkatnya jumlah wakaf
d- Meningkatnya kemampuan masyarakat
dalam memenuhi ajaran agama
e- Keluarga mampu mengembangkan
ajaran agama
f- Banyaknya anggota keluarga yang
mempunyai ijazah sarjana
g- Masyarakat yang berakhlaq mulia
h- Tumbuh kembangnya perasaan cinta
dan kasih sayang dalam anggota masyarakat
i-
Keluarga
yang di dalamnya terdapat cinta dan kasih sayang [3]
B.
PROSES PENUAAN
Proses penuaan adalah siklus yang
ditandai dengan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh karena bertambahnya
umur. Umumnya proses penuaan dapat dilihat dari garis-garis kerutan di
permukaan kulit, baik kulit wajah ataupun kulit di bagian tubuh lainnya. Berikut
adalah gejala penuaan pada kulit:
1. Garis wajah terlihat lebih jelas
2. Terdapat garis kerutan pada kulit
di daerah mata, pipi, leher, atau tangan
3. Kulit menunjukkan elastisitas
yang kurang sehingga jika terjadi peregangan pada kulit sulit untuk kembali
4. Pada kebanyakan perempuan
pascamenopause, produksi hormon etrogen mulai berkurang. Pada proses ini kulit
dan jaringan-jaringan lain mulai menipis dan tidak lentur lagi. Selain itu kulit
menjadi lebih keriput, serta rambut mulai menipis dan beruban.[4]
QS.
Al-Mu’min: 67
“Dialah
yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu
dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian
(kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian
(dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan
sebelum itu. (Kami berbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang
ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”
Siklus
khidupan manusia dimulai dengan kelahirannya, kemudian ia tumbuh menjadi
seorang anak, dewasa, menjadi tua dan kemudian pada akhirnya ia mati. Sebagian
manusia hidup dengan siklus yang penuh dari lahir menjadi dewasa, tua dan mati,
tapi ada juga yang tidak.[5]
QS.
Al-Hajj: 5
$yg•ƒr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# bÎ) óOçFZä. ’Îû 5=÷ƒu‘ z`ÏiB Ï]÷èt7ø9$# $¯RÎ*sù /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜœR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ ¢OèO `ÏB 7ptóôÒ•B 7ps)¯=sƒ’C ÎŽöxîur 7ps)¯=sƒèC tûÎiüt7ãYÏj9 öNä3s9 4
”É)çRur ’Îû ÏQ%tnö‘F{$# $tB âä!$t±nS #’n<Î) 9@y_r& ‘wK|¡•B §NèO öNä3ã_ÌøƒéU WxøÿÏÛ ¢OèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£‰ä©r& (
Nà6ZÏBur `¨B 4†¯ûuqtGムNà6ZÏBur `¨B –Štム#’n<Î) ÉAsŒö‘r& ÌßJãèø9$# Ÿxø‹x6Ï9 zNn=÷ètƒ .`ÏB ω÷èt/ 8Nù=Ïæ $\«ø‹x© 4
“ts?ur šßö‘F{$# Zoy‰ÏB$yd !#sŒÎ*sù $uZø9t“Rr& $ygøŠn=tæ uä!$yJø9$# ôN¨”tI÷d$# ôMt/u‘ur ôMtFt6/Rr&ur `ÏB Èe@à2 £l÷ry— 8kŠÎgt/ ÇÎÈ
5. Hai manusia, jika kamu dalam
keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami
telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan
yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula)
di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak
mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat
bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah
bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang
indah.[6]
·
Faktor-faktor
pemicu proses penuaan:
1. Faktor genetik, merupakan faktor
bawaan (keturunan) yang berbeda pada setiap individu. Faktor inilah yang
mempengaruhi perbedaan efek menua pada setiap individu. Seorang individu dapat
lebih cepat atau lebih lambat proses penuaannya. Misalnya seseorang yang
mempunyai bawaan penuaan dini, mempunyai keturunan mengidap penyakit tertentu,
perbedaan tingkat intelegensi, warna kulit, tipe kepribadian, dan lain-lain.
2. Faktor endogenetik, terkait
dengan proses penuaan faktor ini adalah perusakan sel. Terjadi pula perubahan-perubahan
seperti perubahan struktural dan penurunan fungsional, kemampuan dan daya
adaptasi kulit untuk mensintesis vitamin D.
3. Faktor lingkungan dan gaya hidup,
faktor ini berkaitan erat dengan asupan zat gizi, kebiasaan merokok, minuman
alkohol dan kafein, tingkat polusi, obat-obatan, penyinaran ultraviolet, dsb.
Selain itu sikap lingkungan sosial budaya juga banyak mempengaruhi kondisi
penuaan manusia.[7]
C.
PENDEKATAN HOLISTIK PENDIDIKAN
ANAK
Pendekatan holistik (whole-menyeluruh) adalah sebuah
cara pandang yang memperhatikan dan mempertimbangkan semua aspek-aspek
kehidupan yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan seseorang.[8]
Beberapa pendekatan telah ditemukan dan diujicobakan
dalam rangka memperbaiki output pendidikan. Salah satu pendekatan dalam proses
pelaksanaan pendidikan yang mampu melihat anak secara keseluruhan adalah
pendekatan holistik. Pada pendekatan ini setiap anak tidak hanya disiapkan
untuk menjadi pekerja di masa depan, kecerdasan dan kemampuan anak lebih
dikembangkan dari pada sekedar mengejar target nilai-nilai dan tes-tes yang
telah distandarisasikan.
Pendekatan holistik dikemas melalui hubungan
langsung antara anak dengan lingkungannya. Selain itu pendekatan ini tidak
hanya melihat manusia dari aktivitasnya yang terpisah pada bagian-bagian
tertentu, tapi merupakan makhluq yang bersifat utuh dan tingkah lakunya tidak
dapat dijelaskan satu bagian aktivitasnya. Tidak hanya melalui potensi
intelektualnya, namun juga dari potensi spiritual dan emosionalnya.
Pada proses pelaksanaannya pendekatan ini mengajak
anak secara langsung untuk berinteraksi dengan lingkungan kehidupannya.
Mengajak anak untuk berbagi pengalaman kehidupan nyata, mengalami
peristiwa-peristiwa langsung yang diperoleh dari pengalaman kehidupan.
Pendekatan ini berharap agar dapat menyalakan atau menghidupkan kecintaan anak
akan pembelajaran.
Komunitas yang diciptakan pada proses pendidikan
holistik harus dapat merangsang pertumbuhan kreativitas pribadi dan
keingintahuan dengan cara berhubungan dengan dunia. Dengan demikian diharapkan
anak memiliki rasa keingin tahuan yang besar terhadap apapun.
Model pendidikan holistik ini memunculkan kurikulum
holistik yang berciri sebagai berikut:
1- Spiritualitas adalah jantung dari
setiap proses dan praktek pembelajaran.
2- Pembelajaran diarahkan agar siswa
menyadari akan keunikan dirinya dengan segala potensinya. Mereka harus diajak
berhubungan dengan dirinya yang paling dalam (inner self) sehingga memahami eksistensi, otoritas, tapi sekaligus
bergantung sepenuhnya pada pencipta-Nya.
3- Pembelajaran tidak hanya
mengembangkan cara berpikir analitis tapi juga intuitif.
4- Pembelajaran berkewajiban
menumbuh kembangkan potensi kecerdasan ganda.
5- Menyadarkan anak akan
keterkaitannya dengan komunitas sekitarnya.
6- Mengajak anak menyadari
hubungannya dengan bumi dan ciptaan Allah selain manusia seperti hewan,
tumbuhan dan benda (air, udara, tanah) sehingga mereka memiliki kesadaran
ekologis.
7- Menghantarkan anak untuk
menyeimbangkan antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif,
kolaboratif antara isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi,
antara rasional dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif).
8- Pembelajaran yang tumbuh,
menemukan, dan memeperluas cakrawala.[9]
Diperlukan
beberapa langkah untuk memiliki anak unggulan, yaitu:
1. Memperhatikan kepribadian anak
2. Memperhatikan kebutuhan anak
3. Memperhatikan usia anak
4. Menyeimbangkan pemberian hadiah
dan sanksi[10]
Baik dalam konteks pendidikan Islam maupun
pendidikan nasional, kedudukan orang tua mempunyai peran yang sangat penting
dalam proses pendidikan anak. Dalam sebuah sabda Rasulullah SAW: “bahwa setiap bayi yang lahir ke dunia ini
ada dalam keadaan fitrah (suci), kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya
sebagi seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Hadits ini menjelaskan bahwa setiapa anak yang lahir
di muka bumi ini adalah dalam keadaan bagaikan sehelai kertas putih
(tabularasa). Di sinilah pentingnya orang tua dalam membentuk anaknya. Karena
merekalah pelukis pertama yang akan mewarnai lukisan-lukisan lainnya.
Pendekatan holistik dalam pendidikan anak ini mengundang
semua pihak baik guru ataupun orang tua untuk bersama-sama menanamkan keimanan
dan ketaqwaan. Pembentukan generasi muslim tidak hanya dilakukan oleh guru
agama saja tapi juga didukung oleh guru-guru yang lainnya dan termasuk orang
tua anak. Dengan demikian akan terbentuk sebuah generasi muslim yang cerdas,
berkepribadia, dan berakhlaqul karimah.[11]
D.
KOMITMEN AGAMA DALAM KELUARGA
Menurut
David McNally komitmen adalah janji serius untuk bertahan, untuk bangkit, tidak
peduli seberapa banyak Anda telah dihantam. Komitmen melibatkan dua hal, yaitu:
1)
Komitmen menerima kemungkinan dari sebuah harga.
Tidak ada komitmen yang tidak beresiko atau tidak memiliki harga. Saat kita
memberikan komitmen kepada seseorang atau pada sesuatu, saat itu sebenarnya
kita berkata, “ untuk segala sesuatu yang baik atau buruk, yang mungkin datang,
saya berkomitmen padamu.”
2)
Komitmen menolak kemungkinan untuk melarikan diri.
Berkomitmen kepada seseorang atau sesuatu adalahmengikat masa depan Anda dengan
mereka sampai tugas yang disetujui telah selesai dilakukan. Berkomitmen adalah
membuat janji sekaligus setia pada janji tersebut. Berkomitmen adalah melakuka
sesuatu yang sudah Anda janjikan, meskipun janji tersebut sudah lama diucapkan
dan Anda lupa telah mengatakannya.[12]
Membangun
dan mengembangkan sebuah komitmen tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Dibutuhkan keseriusan dan ketekunan yang berkelanjutan agar sesuai dengan
rencana dan harapan sehingga mewujudkan
keberhasilan. Seorang muslim yang berkomitmen adalah seorang muslim yang
berkomitmen terhadap Allah, Rasul-Nya, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
ia harus mengelola komitmennya tersebut agar berhasil dan diridhai Allah SWT.
Menurut Ali Muhammad Khalil, seorang muslim yang memiliki komitmen adalah
muslim sosial yang berkepribadian sangat halus dan cerdas yang berakhlaqul
karimah.[13]
Membangun
sebuah keluarga adalah akumulasi adari komitmen. Pada awalnya adalah komitmen
sepasang manusia yang berbeda jenis kelamin, asal usul, sifat, karakter dan
keinginan. Akumulasi itu pun menumbuhkan perbedaan yang bisa jadi masalah jika
tidak dipersatukan oleh sebuah komitmen mulia untuk menjadi keluarga bahagia.
Komitmen
dengan landasan pada keyakinan akan kekuasaan Allah SWT akan menghasilkan
keluarga yang bertawakkal, tentu dengan berusaha keras untuk kemudian
menyerahkan hasil akhirnya pada ketentuan Allah SWT.[14]
Komitmen
seseorang bisa naik turun sesuai dengan situasi dan kondisinya. Untuk menjaga
agar komitmen tetap pada grafik mendatar atau malah naik dibutuhkan sebuah
konsistensi. (Konsistensi adalah pagar atau batasan yang membuat tindakan
sejalan dengan komitmen yang telah ditetapkan). Ketetapan pada jalan yang akan
ditempuh dan ketetapan untuk memilih memenuhi janjilah yang membuat konsistensi
menjadi penting untuk menumbuhkan komitmen tetap pada jalurnya. Komitmen dan
konsistensi adalah bagian dari usaha keras untuk mencapai hasil paling
maksimal. Yang mana kedua hal ini dilandasi dengan tawakkal.[15]
Dalam
sebuah komitmen hubungan manusia antara hubungan horizontal dan hubungan
vertikal haruslah seimbang. Keseimbangan ini adalah kombinasi antara hubungan
dengan Allah SWT dan manusia.
1.
Jika hubungan dengan Allah SWT rendah dan hubungan
dengan manusia rendah, tidak akan ada keseimbangan.
2.
Jika hubungan dengan Allah SWT rendah dan hubungan
dengan manusia tinggi, tingkat keseimbangan rendah.
3.
Jika hubungan dengan Allah SWT tinggi dan hubungan
dengan manusia rendah, tingkat keseimbangan rendah.
4.
Jika hubungan dengan Allah SWT tinggi dan hubungan
dengan manusia tinggi, tingkat keseimbangan tinggi.
Hubungan dengan Allah
adalah landasan untuk melakukan hubungan dengan manusia. Tingkat intensitas
hubungan keduanya, menghasilkan keseimbangan hidup.[16]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan:
Keluarga menurut makna sosiologi adalah kesatuan
masyarakat (sosial) berdasarkan hubungan perkawinan atau pertalian darah.[17]
Pertalian keluarga atau keturunan diatur secara parental atau bilateral yaitu
garis keturunan yang berdasarkan garis keturunan orang tua. Garis keturunan ini
terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Matrilineal, pertalian keluarga menurut
garis ibu
2. Patrilineal, pertalian keluarga menurut garis
bapak
Proses penuaan adalah siklus yang
ditandai dengan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh karena bertambahnya
umur. Umumnya proses penuaan dapat dilihat dari garis-garis kerutan di
permukaan kulit, baik kulit wajah ataupun kulit di bagian tubuh lainnya.
Berikut adalah gejala penuaan pada kulit:
1. Garis wajah terlihat lebih jelas
2. Terdapat garis kerutan pada kulit
di daerah mata, pipi, leher, atau tangan
3. Kulit menunjukkan elastisitas
yang kurang sehingga jika terjadi peregangan pada kulit sulit untuk kembali
4. Pada kebanyakan perempuan
pascamenopause, produksi hormon etrogen mulai berkurang. Pada proses ini kulit
dan jaringan-jaringan lain mulai menipis
dan tidak lentur lagi. Selain itu kulit menjadi lebih keriput, serta
rambut mulai menipis dan beruban.
Pendekatan holistik (whole-menyeluruh) adalah sebuah
cara pandang yang memperhatikan dan mempertimbangkan semua aspek-aspek
kehidupan yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan seseorang.[18]
Beberapa pendekatan telah ditemukan dan diujicobakan
dalam rangka memperbaiki output pendidikan. Salah satu pendekatan dalam proses
pelaksanaan pendidikan yang mampu melihat anak secara keseluruhan adalah
pendekatan holistik. Pada pendekatan ini setiap anak tidak hanya disiapkan
untuk menjadi pekerja di masa depan, kecerdasan dan kemampuan anak lebih
dikembangkan dari pada sekedar mengejar target nilai-nilai dan tes-tes yang
telah distandarisasikan.
Menurut David McNally
komitmen adalah janji serius untuk bertahan, untuk bangkit, tidak peduli
seberapa banyak Anda telah dihantam. Komitmen melibatkan dua hal, yaitu:
1)
Komitmen menerima kemungkinan dari sebuah harga.
Tidak ada komitmen yang tidak beresiko atau tidak memiliki harga. Saat kita
memberikan komitmen kepada seseorang atau pada sesuatu, saat itu sebenarnya
kita berkata, “ untuk segala sesuatu yang baik atau buruk, yang mungkin datang,
saya berkomitmen padamu.”
2)
Komitmen menolak kemungkinan untuk melarikan diri.
Berkomitmen kepada seseorang atau sesuatu adalahmengikat masa depan Anda dengan
mereka sampai tugas yang disetujui telah selesai dilakukan. Berkomitmen adalah
membuat janji sekaligus setia pada janji tersebut. Berkomitmen adalah melakuka
sesuatu yang sudah Anda janjikan, meskipun janji tersebut sudah lama diucapkan
dan Anda lupa telah mengatakannya
DAFTAR PUSTAKA
v
As-Shafti, Ali
Muhammad Khaliholill. 2003. Iltizam: Komitmen seorang Muslim. Jakarta:
Gema Insani Press.
v
Cholil,
Abdullah. 2007. A to Z: 26 Kiat Menata Keluarga. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
v
John, J. penerjemah:
Inadah Fitria. 2010. 26 Keys of
happiness, 26 Rahasia Menemkan Kebahagiaan dan Menikmati Hidup. Jakarta: PT
Niaga Swadaya.
v
Kurniasih,
Imas. 2010. Mendidik SQ Anak menurut Nabi
Muhammad SAW. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Marwa.
v
Sa’abah,
Marzuki Umar . 2001. Bagaimana AwetMuda dan Panjang Usia. Jakarta: Gema
Insani Press.
v Sudewo,
Bambang. Buku PintarHidup Sehat Cara Mas
Dewo. 2009. Jakarta: PT Agromedia
Pustaka.
v Sukanta, Putu
Oka. 2001. Akupresur & Minuman untuk
Mengatasi Gangguan Pencernaan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
v
Tim Pengembang
Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan
Aplikasi Pendidikan bagian 3 Pendidikan Disiplin Ilmu. Bandung: PT Imperial
Bhakti Utama.
v
Wirakusumah,
Emma S. 2007. Cantik dan Awet Muda dengan Buah, Syur dan Herbal.
Jakarta: Penebar Plus+.
v
Zaitunah
Subhan, Zaitunah. 2004. Membina Keluarga
Sakinah. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
[4] Bambang Sudewo, Buku PintarHidup Sehat Cara Mas Dewo, ( Jakarta:
PT Agromedia Pustaka, 2009), hal. 73.
[5]
Marzuki Umar Sa’abah, Bagaimana AwetMuda
dan Panjang Usia, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 2-3.
[6]
aL-Qur’an terjemah
[8] Putu Oka Sukanta, Akupresur & Minuman untuk Mengatasi
Gangguan Pencernaan, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2001), hal. 3.
[9] Imas Kurniasih, mendidik SQ Anak menurut Nabi Muhammad SAW,
(Yogyakarta: Penerbit Pustaka Marwa, 2010), hal. 96-98.
[11]
Tim Pengembang Ilmu
Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi
Pendidikan bagian 3 Pendidikan Disiplin Ilmu, (Bandung: PT Imperial Bhakti
Utama, 2007), hal 15.
[12] J. John, penerjemah: Inadah Fitria, 26 Keys of happiness, 26 Rahasia Menemkan Kebahagiaan
dan Menikmati Hidup, ( Jakarta: PT Niaga Swadaya,2010), hal. 46-47.
[13] Ali Muhammad Khalil As-Shafti, Iltizam:
Komitmen seorang Muslim, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), hal. V.
[14] Abdullah Cholil, A to Z: 26 Kiat Menata
Keluarga, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2007), hal. 109.
[18] Putu Oka Sukanta, Akupresur & Minuman untuk Mengatasi
Gangguan Pencernaan, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2001), hal. 3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar